Proses Interaksi Sosial Disosiatif

Posted on

Proses Interaksi Sosial Disosiatif – Pada kesempatan ini admin Pengertian Belajar akan berbagi tentang Proses Interaksi Sosial Disosiatif. Proses disosiatif merupakan interaksi sosial yang mengarah pada konflik dan merenggangkan solidaritas kelompok. Proses disosiatif dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu kompetisi, kontravensi, dan pertikaian.

Proses Interaksi Sosial Disosiatif

Proses Interaksi Sosial Disosiatif

 

a. Kompetisi

Kompetisi merupakan proses individu atau kelompok mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum tanpa menggunakan ancaman dan kekerasan. Dalam kehidupan sehari-hari keuntungan-keuntungan tersebut biasanya berupa sesuatu yang berharga, tetapi dalam jumlah yang terbatas. Contohnya gelar juara, kesuksesan, sebuah piala, dan hadiah. Untuk mendapatkannya, seseorang harus bersaing satu dengan yang lainnya.

Kompetisi mempunyai dua tipe umum, yaitu persaingan pribadi dan persaingan kelompok.

1) Kompetisi Pribadi

Kompetisi pribadi melibatkan satu individu dengan individu lain yang secara langsung bersaing untuk mendapatkan sesuatu. Misalnya Dino dan Tatang bersaing untuk mendapatkan hati Clara atau persaingan antarkaryawan untuk mendapatkan posisi yang bagus. Kompetisi-kompetisi di atas dinamakan rivalry.

2) Kompetisi Kelompok

Kompetisi kelompok merupakan persaingan yang melibatkan berbagai pihak secara berkelompok. Bentuk kompetisi ini dapat dilihat pada setiap pertandingan seperti pertandingan voli, sepak bola, dan basket. Namun, dapat pula terjadi pada dua perusahaan besar yang bersaing untuk mendapatkan suatu yang berharga. Bentuk-bentuk tersebut mendorong munculnya bentuk-bentuk kompetisi lain, yaitu kompetisi di bidang ekonomi, kebudayaan, kedudukan, dan peranan, serta kompetisi ras.

b. Kontravensi

Kontravensi sering kita jumpai di dunia politik. Di mata masyarakat para politikus tampak sangat dekat. Akan tetapi, terdapat sikap-sikap lain yang tersembunyi di antara mereka. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian, tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian. Interaksi sosial ini dalam sosiologi dinamakan kontravensi.

Kontravensi adalah sikap mental tersembunyi terhadap orang lain atau terhadap unsur-unsur kebudayaan suatu golongan tertentu. Kontravensi ditandai gejala-gejala ketidakpastian mengenai diri seseorang, perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian atau keragu-raguan.

Berdasarkan tingkatannya, kontravensi dibedakan menjadi beberapa macam bentuk. Bentuk-bentuk tersebut menurut Leopold Von Wiese dan Howard Becker sebagai berikut.

  • Kontravensi umum, meliputi perbuatan-perbuatan seperti penolakan, keengganan, perlawanan, perbuatan menghalanghalangi, protes, gangguan-gangguan, kekerasan, dan pengacauan rencana orang lain.
  • Kontravensi sederhana, seperti menyangkal pernyataan orang lain di muka umum, memaki-maki orang lain melalui surat-surat selebaran, mencerca, memfitnah, dan melemparkan beban pembuktian kepada pihak lain.
  • Kontravensi intensif, seperti penghasutan, penyebaran desas-desus, dan mengecewakan pihak-pihak lain.
  • Kontravensi rahasia, antara lain mengumumkan rahasia pihak lawan dan pengkhianatan.
  • Kontravensi taktis, misalnya mengejutkan lawan dan mengganggu membingungkan pihak lain.

c. Konflik

Konflik terjadi jika dua pihak berusaha saling menggagalkan tujuan masing-masing. Untuk mencapai tujuannya, setiap pihak tidak segan-segan menggunakan ancaman dan kekerasan. Oleh karena itu, konflik merupakan bentuk interaksi sosial yang bersifat negatif. Akibat konflik harta benda hancur, kebahagiaan keluarga terampas, dan banyak nyawa terenggut secara paksa.

Menurut Soerjono Soekanto, konflik yang terjadi di masyarakat disebabkan adanya perbedaan antarindividu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan dan perubahan sosial. Semua perbedaan itu melahirkan bentuk-bentuk khusus konflik. Bentukbentuk tersebut seperti konflik pribadi, konflik sosial, konflik antarkelas-kelas sosial, konflik politik, dan konflik internasional.

Baca juga :

Walaupun konflik merupakan suatu proses disosiatif yang agak tajam, tetapi konflik mempunyai fungsi positif pula bagi masyarakat. Konflik dapat menjadi sarana untuk mencapai suatu keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat serta mampu meningkatkan solidaritas in-group dalam suatu kelompok.

Demikianlah pembahasan singkat tentang Proses Interaksi Sosial Disosiatif dari admin bacajuga.com, semoga bermanfaat.[pb]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *