Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia

Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia – Dalam artikel ini anda akan lebih memperdalam mengenai kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dan perannya dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia.

a. Perlak

Menurut pendapat Prof. Ali Hasymy dalam sebuah makalahnya yang berjudul Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh diperoleh keterangan bahwa kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Kerajaan Perlak (Peureula) yang berdiri pada pertengahan abad IX dengan raja pertamanya yang bernama Alauddin Syah. Hal ini didasarkan pada naskah tua, Izhharul Haqyang ditulis oleh al-Fashi. Perlak berkembang menjadi pusat perdagangan lada. Ada banyak pedagang yang singgah di Perlak sehingga Kota Perlak berkembang dan banyak mendatangkan kemakmuran. Hal ini justru menimbulkan ambisi dari tokoh-tokoh setempat untuk saling berkuasa sehingga menimbulkan ketidakstabilan di Perlak. Akibatnya, para pedagang yang mengalihkan kegiatannya ke Samudera Pasai sehingga pada akhirnya Kerajaan Perlak mengalami kemunduran pada akhir abad XIII.

Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia

b. Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai terletak di pantai timur Aceh (di sekitar Lhokseumawe) dan berdiri pada abad XIII. Hal ini dibuktikan dengan penemuan batu nisan Sultan Malik as-Saleh yang merupakan raja pertama di Samudera Pasai yang berangka tahun 1297. Sultan Malik as-Saleh memiliki nama asli Marah Silu. Beliau menikah dengan Langgang Sari yang merupakan putri Raja Perlak. Akibat pernikahan tersebut, kekuasaan Samudera Pasai semakin meluas hingga ke pedalaman. Samudera Pasai menjalin hubungan dengan Delhi di India. Hal ini dibuktikan dengan adanya utusan Sultan Delhi, yaitu Ibnu Batutah yang berkunjung ke Samudera Pasai hingga dua kali.

c. Kerajaan Aceh

Raja pertama Kerajaan Aceh adalah Sultan Ibrahim atau Ali Mughayat Syah yang memerintah pada tahun 1514–1528. Akibat dikuasainya Malaka oleh Portugis pada tahun 1511, banyak pedagang yang beralih ke Aceh. Hal ini menyebabkan semakin majunya Kerajaan Aceh. Puncak kejayaan Kerajaan Aceh terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu wilayah Aceh mencapai Deli, Nias, Bintan, dan beberapa daerah di Semenanjung Malaya.

d. Kerajaan Demak

Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berdiri pada tahun 1478. Pendiri Kerajaan Demak adalah Raden Patah. Demak berhasil menjadi kerajaan besar karena letaknya yang strategis dan memiliki hasil pertanian yang melimpah dengan komoditas ekspornya berupa beras. Kemajuan Demak juga tidak dapat dilepaskan dari runtuhnya Kerajaan Majapahit sehingga Demak mendapat dukungan dari kota-kota pantai utara Jawa yang lepas dari kekuasaan Majapahit. Dalam mengendalikan pemerintahan, Raden Patah didampingi oleh Sunan Kalijaga dan Ki Wanapala. Masjid Agung Demak dibangun oleh Raden Patah, setelah memerintah selama tiga tahun. Kerajaan Demak mengalami masa kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Trenggono. Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, Demak berusaha membendung masuknya Portugis ke Jawa.

e. Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam berdiri pada tahun 1586. Raja-raja yang memerintah Mataram Islam antara lain Sutawijaya, Mas Jolang, dan Sultan Agung. Sutawijaya menjadi Raja Mataram dengan gelar Panembahan Senopati Ing Aloga Sayidin Panatagama. Selama pemerintahan Sutawijaya, Mataram selalu diliputi oleh api peperangan, tetapi pada akhirnya berhasil dipadamkan. Raja terbesar Kerajaan Mataram adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Dalam masa pemerintahannya, Sultan Agung tidak hanya berambisi untuk memperluas wilayah, tetapi juga berusaha meningkatkan derajat kesejahteraan rakyatnya melalui usaha-usaha di bawah ini.

  • Penduduk di Jawa yang tergolong padat dipindahkan ke Karawang karena daerah ini mempunyai perladangan dan persawahan yang luas.
  • Dibentuklah suatu susunan masyarakat yang bersifat feodal atas dasar masyarakat yang agraris, yaitu terdiri atas pejabat yang diberi tanah garapan.
  • Disusunlah buku-buku filsafat, antara lain Sastra Gending, Niti Sastra, dan Astabrata.

f. Kerajaan Banten

Setelah Fatahillah atau Sunan Gunung Jati berhasil merebut Sunda Kelapa pada tahun 1526, daerah Banten dikembangkan pula sebagai pusat perdagangan dan penyiaran agama Islam. Kerajaan Banten berhasil menjadi kerajaan merdeka setelah melepaskan diri dari Demak. Rajanya yang pertama adalah Sultan Hasanuddin (1552–1570) yang merupakan putra tertua dari Fatahillah. Banten mencapai masa kejayaan di bawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1682). Selama masa pemerintahannya, Sultan Ageng terlibat pertempuran melawan VOC sebanyak tiga kali sehingga membuat repot VOC. Kegigihan Sultan Ageng justru ditentang oleh putra mahkotanya sendiri yang bernama Sultan Haji. Kesempatan ini dimanfaatkan VOC untuk menggunakan politik adu domba sehingga tidak lama kemudian Sultan Ageng dapat ditangkap dan diasingkan hingga beliau wafat. [pb]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *