Keterkaitan Antara Pers dan Jurnalistik

Keterkaitan Antara Pers dan Jurnalistik – Pers dan jurnalistik merupakan suatu kesatuan yang bergerak dalam bidang penyiaran informasi, hiburan, keterangan, dan penerangan. Artinya adalah bahwa antara pers dan jurnalistik mempunyai hubungan yang erat. Pers sebagai media komunikasi massa tidak akan berguna apabila sajiannya jauh dari prinsip-prinsip jurnalistik. Sebaliknya karya jurnalistik tidak akan bermanfaat tanpa disampaikan oleh pers sebagai medianya, bahkan boleh dikatakan bahwa pers adalah media khusus untuk digunakan dalam mewujudkan dan menyampaikan karya jurnalistik kepada khalayak (Kustadi Suhandang, 2004:40).

Dalam kegiatan jurnalistik selalu terjadi hal-hal sebagai berikut:
  • Pada umumnya public tidak senang terhadap berita-berita sensasi yang berlebihan.
  • Sejak dulu, memperoleh produk jurnalistik paling awal merupakan syarat terpenting dalam karya penyiaran atau pemberitaan.
  • Sejak dulu pula, pelanggan yang rewel itu ada.

Keterkaitan Antara Pers dan Jurnalistik

Keterkaitan Antara Pers dan Jurnalistik

 

Dari hasil penelitian sejarah, dapat diketahui bahwa pertumbuhan jurnalistik berjalan dengan kondisi sebagai berikut:

  • Subyek penyajiannya berupa pemerintah.
  • Jurnalis sebagai perantara dalam penyiaran.
  • Alat penyiarannya berupa papan pengumuman dan catatan-catatan para jurnarius yang diperbanyak, serta pemberitaan lisan dari para jurnarius tersebut.
Pers sangat erat hubungannya dengan jurnalistik. Pers sebagai media komunikasi massa tidak akan berguna apabila semua sajian-sajiannya jauh dari prinsip-prinsip jurnalistik. Bukan pers namanya apabila materi yang disampaikan diluar jurnalistik.Kegiatan   Jurnalistik   (journalistic)  sebenarnya  sudah  lama  dikenal  oleh manusia, karena tanpa kita sadari kegiatan Jurnalistik selalu hadir dan ada di tengah-tengah masyarakat, sejalan dengan kegiatan pergaulan hidup  manusia yang dinamis, terutama sekali dalam masyarakat Modern sekarang ini.

Baca : Tahap Tahap Perjanjian Internasional

Dalam perjalanannya, Jurnalistik sebagai suatu disiplin ilmu telah mengalami perkembangan yang hebat.Di mulai dari jaman jayanya kerajaan Romawi Kuno saat di bawah kekuasaan Raja Julius Caesar. Pada masa itu kegiatan Jurnalistik dilakukan oleh  para  budak  yang  diminta  oleh  para majikannya  untuk  mengutip  informasi tentang  segala  peristiwa  pada  hari  itu,  yang  berkaitan dengan status atau  kegiatan usaha majikannya dan diberitakan dalam acta diurnal (rangkaian kata hari itu) yang dipasang di Forum Romanun (Stadion Romawi).

Kata jurnal sendiri berasal dari bahasa Prancis, journal  yang  berarti catatan harian. Hampir sama bunyi pengucapannya dengan kata yang ditemukan padabahasalatin,  diurn    yang  mengandung  arti hari  ini.  Adapun  kata  istik  merujuk  kepada masalah Estetika  yang berarti ilmu pengetahuan tentang keindahan. Keindahan yang di maksud adalah “mewujudkan berbagai produk seni dan keterampilan dengan menggunakan yang di perlukan seperti : kayu, batu, kertas, cat, atau suara. Dalam hal ini meliputi semua macam bangunan, kesusastraan dan musik.Dengan demikian secara Etimologi, Jurnalistik dapat  diartikan  sebagai suatu karya seni dalam hal membuat catatan tentang peristiwa sehari–hari, karya yang mana memiliki keindahan dan dapat  menarik perhatian khalayak sehingga dapat dinikmati dan dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup.
Menurut  Astrid  S.  Susanto  dalam  bukunya,  komunikasi  massa . Jurnalistik  adalah sebagai kejadian pencatatan dan atau  pelaporan serta  penyebaran tentang kejadian sehari-hari. Begitu pula dengan Onong Uchana Effendy yang mengatakan bahwa jurnalistik merupakan kegiatan pengolahan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari peliputan sampai dengan penyebaran kepada masyarakat. Dan lebih ringkas lagi Djen Amar mendefinisikan Jurnalistik sebagai kegiatan mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan berita kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya.
Secara  umum  Jurnalistik  dapat  di  artikan  sebagai  teknik  mengolah  berita, mulai dari mencari berita sampai dengan menyebarkankannya kepada khalayak yang membutuhkan. Segala sesuatu yang dianggap  menarik  dan penting  untuk  khalayak, bisa dijadikan bahan berita untuk disebarluaskan kepada  masyarakat,  dengan menggunakan sebuah media. Seperti  yang  diungkapkan  oleh Sumadiria,  dalam bukunya  Jurnalistik   Indonesia, Menulis  Berita   dan  Feature,  Jurnalistik adalah “Kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan   dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak  dengan  secepat-cepatnya”.Seiring dengan  berkembangnya ilmu  komunikasi,  maka  definisi  jurnalistik pun makin berkembang. Hal ini juga sesuai dengan perkembangan media pers. Tetapi akar definisi jurnalistik  yang  perlu  kita catat diantaranya adalah yang dikemukakan  Adinegoro, seorang tokoh pers yang menjadi ikon di kalangan para wartawan.

Baca : Kode Etik Jurnalistik serta Pers yang Bebas dan Bertanggung Jawab

Menurut  Adinegoro  dalam  buku  Jurnalistik  Televisi,  Teori  dan  Praktik, jurnalistik   adalah   kepandaian   mengarang   untuk   memberi   pekabaran   kepada masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luasnya.  Sementara  itu definisi jurnalistik  menurut ilmu  komunikasi adalah suatu  bentuk  komunikasi yang menyiarkan berita  atau  ulasan  berita  tentang  peristiwa  sehari-hari yang  umum  dan aktual dengan secepat-cepatnya.

Dari  pengertian  di  atas  dapat  dikatakan  bahwa  Jurnalistik  adalah  sebuah proses  pencarian berita sampai  berita  tersebut  disebarluaskan  kepada  khalayak dengan menggunakan media berkala. Terkait dengan hubungan antara jurnalistik dan pers, kita  harus  mengetahui  dulu  apa arti dari pers  itu  sendiri.

Penyebab Pers dengan Jurnalistik Saling Terkait

Berdasarkan ketentuan pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungsi pers adalah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Sementara itu Pasal 6 UU Pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut ;

Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui menegakkan nilai nilai dasar demokrasi dan mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia. Selain itu pers juga harus menghormati kebinekaan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benr melakukan pengawasan.

Sebagai pelaku Media Informasi

Pers itu memberi dan menyediakan informasi tentang peristiwa yang terjadi kepada masyarakat, dan masyarakat membeli surat kabar karena memerlukan informasi.

Fungsi Pendidikan

Pers itu sebagi sarana pendidikan massa (mass Education), pers memuat tulisan-tulisan yang mengandung pengetahuan sehingga masyarakat bertambah pengetahuan dan wawasannya.

Baca : Pembatalan dan Berakhirnya Perjanjian Internasional

Fungsi Hiburan

Pers juga memuat hal-hal yang bersifat hiburan untuk mengimbangi berita-berita berat (hard news) dan artikel-artikel yang berbobot.Berbentuk cerita pendek, cerita bersambung, cerita bergambar, teka-teki silang, pojok, dan karikatur.

Fungsi Kontrol Sosial

Fungsi ini terkandung makna demokratis yang didalamnya terdapat unsur-unsur sebagai berikut:

  • Social participation (keikutsertaan rakyat dalam pemerintahan)
  • Social responsibility (pertanggungjawaban pemerintah terhadap rakyat)
  • Social support (dukungan rakyat terhadap pemerintah)
  • Social control (kontrol masyarakat terhadap tindakan-tindakan pemerintah)

Sebagai Lembaga Ekonomi

Pers adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang pers dapat memamfaatkan keadaan di sekiktarnya sebagai nilai jual sehingga pers sebagai lembaga sosial dapat memperoleh keuntungan maksimal dari hasil prodduksinya untuk kelangsungan hidup lembaga pers itu sendiri.

Baca : Pengertian Moral dan Pengertian Etika

Kode Etik Jurnalistik (KEJ) merupakan aturan mengenai perilaku dan pertimbangan moral yang harus dianut dan ditaati oleh media pers dalam siarannya. Kode Etik Jurnalistik pertama kali dikeluarkan oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) yang antara lain :

  • Berita diperoleh dengan cara jujur
  • Meneliti kebenaran suatu berita atau keterangan sebelum disiarkan (check dan recheck).
  • Sebisanya membedakan yang nyata (fact) dan pendapat (opinion)
  • Menghargai dan melindungi kedudukan sumber yang tidak mau disebut namanya.
  • Tidak memberitakan berita yang diberikan secara off the record (four eyes only)
  • Dengan jujur menyebutkan sumber dalam mengutip berita atau tulisan dari suatu surat kabar atau penerbitan, untuk kesetiakawanan profesi
Kode Etik AJI (Aliansi Jurnalis Independen)
  1. Jurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
  2. Jurnalis senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan pemberitaan serta kritik dan komentar.
  3. Jurnalis memberi tempat bagi pihak yang kurang memiliki daya dan kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya.
  4. Jurnalis hanya melaporkan fakta dan pendapat yang jelas sumbernya.
  5. Jurnalis tidak menyembunyikan informasi penting yang perlu diketahui masyarakat.
  6. Jurnalis menggunakan cara-cara yang etis untuk memperoleh berita, foto dan dokumen.
  7. Jurnalis menghormati hak nara sumber untuk memberi informasi latar belakang, off the record, dan embargo.
  8. Jurnalis segera meralat setiap pemberitaan yang diketahuinya tidak akurat.
  9. Jurnalis menjaga kerahasiaan sumber informasi konfidensial, identitas korban kejahatan seksual, dan pelaku tindak pidana di bawah umur.
  10. Jurnalis menghindari kebencian, prasangka, sikap merendahkan, diskriminasi, dalam masalah suku, ras, bangsa, politik, cacat/sakit jasmani, cacat/sakit mental atau latar belakang sosial lainnya.
  11. Jurnalis menghormati privasi, kecuali hal-hal itu bisa merugikan masyarakat.
  12. Jurnalis tidak menyajikan berita dengan mengumbar kecabulan, kekejaman kekerasan fisik dan seksual.
  13. Jurnalis tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang dimilikinya untuk mencari keuntungan pribadi.
  14. Jurnalis tidak dibenarkan menerima sogokan.
  15. Jurnalis tidak dibenarkan menjiplak.
  16. Jurnalis menghindari fitnah dan pencemaran nama baik.
  17. Jurnalis menghindari setiap campur tangan pihak-pihak lain yang menghambat pelaksanaan prinsip-prinsip di atas.
  18. Kasus-kasus yang berhubungan dengan kode etik akan diselesaikan oleh Majelis Kode Etik.

Demikianlah info Keterkaitan Antara Pers dan Jurnalistik dari admin bacajuga.com, semoga bermanfaat.[bj]