Daerah Pendengaran, Resonansi, Pemantulan Bunyi

Daerah Pendengaran, Resonansi, Pemantulan BunyiBacajuga.com kali ini akan berbagi penjelasan mengenai bunyi dan perambatannya. Di sini akan dibahas 3 hal yaitu : daerah pendengaran manusia, resonansi dan pemantulan bunyi.

Bunyi terjadi bila ada sumber bunyi yang bergetar. Bunyi yang dihasilkan oleh sumber bunyi kemudian merambat melalui zat antara, misalnya udara. Tanpa zat antara, bunyi tidak mungkin merambat. Bunyi yang merambat lalu menggetarkan selaput gendang telinga sehingga kita mendengar bunyi itu.

Dengan demikian, syarat terjadi dan terdengarnya bunyi yaitu ada sumber bunyi, misalnya gendang, gitar, dan garputala, ada zat antara (medium), misalnya udara dan ada penerima di sekitar bunyi. Medium perambatan bunyi bisa berupa zat padat, zat cair, atau gas. Bunyi tidak dapat merambat melalui ruang hampa udara.

Kuat bunyi bergantung pada amplitudo dan jarak sumber bunyi dari penerima. Makin besar amplitudo sumber bunyi, makin kuat bunyi yang terdengar.

A. Daerah Pendengaran Manusia

Telinga manusia hanya mampu mendengar bunyi yang frekuensinya berkisar antara 20 Hz sampai 20.000 Hz. Daerah yang berada pada rentang frekuensi antara 20 Hz dan 20.000 Hz disebut dengan frekuensi audiosonik. Bunyi yang frekuensinya kurang dari 20 Hz disebut infrasonik, sedangkan bunyi yang frekuensinya lebih dari 20.000 Hz disebut ultrasonik.

Jangkrik dapat mendengar bunyi infrasonik sehingga langkah manusia sudah terdengar olehnya dari jarak yang jauh. Anjing, kelelawar, dan ikan lumba-lumba juga dapat mendengar bunyi infrasonik. Kelelawar dapat menghasilkan bunyi ultrasonik. Bunyi ultrasonic dipantulkan oleh benda-benda yang ada di sekitar kelelawar. Bunyi pantulan ini diterima kembali oleh alat penerima pada kelelawar. Itulah sebabnya kelelawar dapat menghindari tabrakan dan dapat menentukan letak mangsanya.

Baca : Getaran dan Gelombang

Di dalam industri, bunyi ultrasonik digunakan misalnya gelombang ultrasonik untuk mengaduk susu supaya rata, mensterilkan makanan dalam kaleng dan meratakan campuran besi dan timah yang dilebur.

B. Resonansi

Resonansi ialah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda karena pengaruh getaran benda lain. Peristiwa resonansi terjadi bila frekuensi getar dua benda tersebut sama.

Banyak alat musik yang menggunakan alat resonansi. Contoh: gitar, saksofon, klarinet, terompet, biola, gamelan, seruling dan harmonika. Selaput juga mengalami resonansi terhadap segala getaran., baik getaran dengan frekuensi besar maupun kecil. Semakin tipis suatu selaput, semakin mudah beresonansi.

Salah satu selaput tipis yang sangat penting adalah selaput gendang telinga. Selaput gendang telinga mudah beresonansi dengan segala macam getaran. Itulah sebabnya mengapa kita menangkap bunyi yang lemah maupun bunyi yang keras.

Selain bisa memberi manfaat, resonansi juga bisa merugikan. Bunyi yang kuat sekali dapat merusak gendang telinga, memecahkan gelas, bahkan dapat merobohkan gedung. Ledakan bom dapat memecahkan kaca jendela dan pintu gedung yang tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat ledakan.

Sepasukan prajurit tidak boleh berbaris dengan langkah yang sama apabila melalui jembatan, karena dapat meruntuhkan jembatan. Getaran yang ditimbulkan kereta api dapat merusak gedung bertingkat di dekatnya.

C. Pemantulan bunyi

Kelelawar dapat mengetahui buah yang matang bukan dari bau atau warna buah tetapi dari pantulan suaranya. Begitu juga kenapa dokter dapat mendengarkan detak jantung atau gerakan nafas dari orang sakit. Hal itu dapat terjadi karena suara dapat mengalami pemantulan.

Baca : Gelombang Stasioner

Hukum-hukum Pemantulan

Saat rambatan bunyi terhalang oleh benda, maka akan mengalami pemantulan. Peristiwa pemantulan bunyi selalu mengikuti hukum-hukum pemantulan yaitu:

  1. Bunyi yang datang, bunyi yang dipantulkan, dan garis normal selalu terletak pada satu bidang pantul.
  2. Sudut datang sama dengan sudut pantul.

Yang dimaksud dengan garis normal adalah garis yang ditarik tegak lurus pada bidang pantul. Peristiwa pemantulan bunyi terjadi ketika kita berteriak di tepi gunung karena suara kita membentur lereng gunung. Akibatnya kita akan mendengar kembali sura kita sesaat setelah kita berhenti. Waktu yang diperlukan untuk rambatan suara kembali tergantung pada jarak antara kita dengan lereng pemantulnya. Hal ini dimanfaatkan untuk menentukan kedalaman laut atau untuk mencari logam yang tengelam di dasar laut dengan menggunakan sonar.Pemantulan Bunyi

Cepat rambat dalam bunyi dalam air laut diketahui, yaitu 1.500 m/s. Persamaan yang digunakan untuk mengukur kedalam laut (d) adalah:

d = v . (t/2)

atau waktunya terlebih dahulu di bagi dengan 2 kemudian dikalikan dengan cepat rambat bunyi dalam air.

atau

d = (v . t) /2

 

Keterangan:

d = kedalam laut (m)

v = cepat rambat bunyi dalam air (m/s)

t = waktu untuk bunyi untuk kembali ke kapal (s)

Contoh Soal:

Sonar laut yang dipancarkan kembali setelah 8 sekon, jika cepat rambat bunyi dalam air laut 1.500 m/s. Tentukan kedalaman laut yang diukur !

Jawab:

Diketahui:

v = 1.500 m/s

t = 8 s

Ditanyakan:

d = ….?

Penyelesaian:

Pertama waktu yang diperlukan bunyi untuk merambat dibagi 2 karena waktu tersebut diperlukan untuk memantul kembali, maka t = 8 / 2 = 4 s

Kemudian:

d = v . t

d = 1500 . 4

d = 6000 m

d = 6 km

atau

d = v . (t/2)

d = 1500 . (8/2)

d = 1500 . 4

d = 6000 m

d = 6 km

atau

d = (v . t) / 2

d = (1500 . 8) / 2

d = 12000 / 2

d = 6000 m

d = 6 km

Kita sering mendengar pantulan bunyi yang hampir bersamaan dengan suara aslinya. Hal ini biasanya terjadi jika ruangan kosong atau luas. Bunyi pantul yang terdengar hampir bersamaan dengan bunyi asli disebut dengan gaung. Gaung menyebabkan bunyi asli menjadi tidak jelas. Untuk menghindari gaung maka pada dinding ruangan gedung bioskop, studio radio, dan TV biasanya dilapisi dengan peredam bunyi bisa berupa karton, wol, karet dan busa.

Baca : Gelombang Berjalan

Terkadang juga terdengar pantulan suara sesudah suara yang aslinya. Pantulan suara seperti itu disebut dengan gema. Gema terdengar bila jarak antara sumber bunyi dan dinding yang memantulkan bunyi harus lebih besar dari 17 meter.

Demikian penjelasan tentang Daerah Pendengaran, Resonansi, Pemantulan Bunyi dari admin bacajuga.com. Semoga penjelasan di atas dapat memberikan manfaat bagi kita semua. [bj]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *